aku bukan wanita yang mudah mual sejauh yang ku tau.
tapi kau harus tau, kali ini aku hampir merasakan itu.
Mulanya , ia batuk terus , tak tau berapa kali dalam semenit ia batuk.
aku mengantuk.
di dalamnya hanya ada aku, supir, dan seorang pria
aku duduk sebelah kanan pria itu.
ia di pojok sana, berhadapan dengan kursi panjang ku.
menyendiri.
kemudian , setelah berlama lama batuk.
ia mengeluarkan bunyi . seperti ini . huaaaakcuuiiikhhh . aku bersyukur tidak melihatnya .
aku berdoa mungkin itu dapat membuatnya lebih baik.
aku masih mengantuk .
masih seperempat jalan menuju rumahku.
lalu dalam samar samar tidurku.
aku mendengar ia berdahak .
tadinya aku hiraukan .
tapi itu terjadi terus menerus .
bisa kau bayangkan kah?
rasa kantukku hilang .
aku mulai khawatir .
khawatir tanpa alasan .
aku berusaha tidak mendengar apapun .
tapi tidak bisa
aku malah bisa menghitung selang berapa detik ia berdahak terus menerus.
aku perkirakan . berkisar antara 10 sampai 17 detik sekali . bayangkan saja !
dalam satu menit , ia bisa berdahak sampai 6 kali .
tadinya aku takjub .
tapi kemudian tidak .
aku dilanda ketakutan .
aku menderita .
hatiku penuh dengan doa , semoga angkot yang ku tumpangi .
berjalan di jalan yang mulus .
tidak ada paku yang menancap di ban nya.
tidak berhenti untuk mengisi angin atau mengganti ban .
atau mengisi bensin .
itu akan memperpanjang penderitaanku .
aku semakin ketakutan .
ketika sesekali melirik wajahnya .
yang ku ingat, bibirnya tebal dan penuh, selalu rapat setelah berdahak.
rapat sekali .
ia berlaga seperti tidak ada yang mendengar dahaknya.
sangat nyaman dalam posisi duduknya yang tegap tapi santai dalam sandarannya.
kulihat pria disampingku ,
mencoba memijit pangkal hidung nya , mengernyit ngernyitkan ujung alisnya , sehingga kdua potong alis itu beradu.
cara itu pernah ku lihat ketika ibuku pusing .
mungkin pria itu juga .
tiba tiba tanpa sadar ku pegang perutku .
entah bagaimana datangnya pikiran itu.
aku takut, isi mereka tumpah berceceran di dalam angkot .
dan itulah sepenggal kisah sedih antara aku, pria itu, dan supir.
satu hal .
aku teramat bahagia bisa meninggalkan mereka .
aku turun dengan dibarengi dahaknya yang pendek , seperti bersedih nadanya.
mungkin itu salam perpisahan untukku .
aku membatin . 'selamat berjuang bapak pria disampingku , bertahanlah'
untukmu nenek cepat sembuh, semoga cucu mu di sana, segera mengerok punggungmu . amin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar