Halaman

Foto saya
Jakarta Barat, DKI Jakarta, Indonesia
Your Future Psychology

Kamis, 04 Juni 2015

Kemesraan

Hari kedua, instalasi rehabilitasi mental RSKD Duren Sawit

09.00 Pasien DayCare berdatangan, jumlah laki-laki dan perempuan hampir seimbang, 50% 50%. Satu orang remaja laki-laki. Hari ini aku merasakan satu perasaan yang aneh. Aku sudah tidak takut lagi, Aku mulai merasa ingin mereka pulih segera. Aku mulai bersikap seperti berhadapan dengan orang yang sakit, perlu bimbingan, perlu ditemani, bukan ditakuti. Mereka sakit, seperti sakit fisik di rumah sakit umum, mereka perlu bantuan. Mereka sakit, jiwanya yang sakit. Tidak ada yang perlu ditakuti diruangan itu. DGT dan materi hari itu bertema bernyanyi. Sama seperti hari sebelumnya, mereka senam, kemudian diberi pertanyaan pertanyaan orientasi waktu, hari apa hari ini, tanggal berapa, bulan apa, dan tahun berapa. Setelahnya, bu lidya memberi pengetahuan tentang lagu. siapa yang suka dengar musik. macam-macam musik. dan lain sebagainya.

10.00 Pasien DayCare bernyanyi, judul lagunya Sehat Jiwa, aku lupa liriknya, tapi liriknya sangat bagus. "Yakin diri, langkah pasti, menggapai cita.." lirik awalnya seperti itu. Hatiku bergetar, ini benar-benar pengalaman yang belum pernah aku rasakan. Dihadapanku ada sepuluh orang pasien skizo dengan jenis yang berbeda, dan mereka bernyanyi. Bersama-sama yakin bahwa dirinya bisa pulih. Dirinya bisa menggapai cita-cita. Mereka bersama-sama tertawa, tersenyum, mengeluh, mereka bernyanyi sendiri-sendiri. Mengabaikan suara yang parau, suara yang kasar, fals. Mereka asik. Lalu aku menangis, aku tinggalkan ruangan. di toilet aku menangis, disaksikan kedua temanku, ayu dan hanun. Aku merasa bersyukur dilahirkan sehat fisik dan sehat jiwa. Sementara dihadapanku tadi beberapa ciptaanNya diciptakan dengan jiwa yang sedang sakit. Aku merasa menyayangi diriku, menyayangi mereka.

13.00 Aku bersama bu lidya dan ayu menjemput pasien wanita di bangsal berry, nama ruangannya. Di dalam ada kepala suster ruangan disana, sedang sakit katanya. Kami kemudian berkenalan dan bersalaman. Bu lidya memanggil satu persatu nama pasien yang sudah boleh di rehab. Di sebelah kiri ruangan pojok sana, ada ruangan dengan tiang-tiang tinggi seperti sel penjara. Semua pasien disana, di dalam sana. berbeda dengan bangsal laki-laki, setelah gerbang dibuka, kita bisa langsung menyaksikan mereka berkeliling berjalan, makan, berinteraksi dengan perawat dan pasien lain di ruang tengah bangsal. Disini berbeda, semua pasien di dalam. "hasna, isma, hey heyyy ngapain pada keluaaar?!! masuuuk masuuuk!!! ribet banget, liat pintu kebuka aja, yang dipanggil siapa, yang ga dipanggil di dalem ajaaa!!!" kepala suster berteriak. Sekarang aku terbiasa dengnn ini, semua suster dan petugas sangat tegas, hampir galak bahkan. Dan pasien akan menurutinya, aku membayangkan, mungkin dulu sewaktu mereka ditemukan, mereka diberikan treatment dengan perintah yang sangat tegas, seperti misalnya ketika emosinya blm stabil, mereka yang berperilaku agresif atau bizare akan diberikan injeksi sambil dimarahi oleh perawat, sehingga ini terbawa sampai pada level perawatan di ruang berry, mereka takut kepada semua petugas, mereka menurut, mereka mendengarkan, mereka pantas diberikan kasih sayang.

14.45 Materi DGT hari kamis adalah tentang binroh (bimbingan rohani), Pak Taruli leadernya, ia orang batak kental dengan logatnya. Ia penganut kristen. Hari itu setelah pak Taruli bertanya "apa itu bimbingan rohani? mengapa penting?" kemudian pak Tendy, salah satu pasien menjawab "Saya tau pak, jadi, walaupun kita berbeda-beda agama kita harus saling menghargai, toleransi, untuk itu penting bimbingan rohani". "oke, baguus, tepuk tangan untuk pak Tendy, hari ini tema kita adalah toleransi agama. Oke? coba mulai dari baliyang, apa itu toleransi agama baliang?" dan dilanjutkan jawaban dari baliang. semua pasien menjawab, ada yang menunjuk tangan, ada yang harus disuruh. seperti salah satu pasien dari papua, "saya pernah melewati jalan, di tengah jalan, ada beberapa orang berkumpul, kita harus pamitan" ia menjelaskan dengan logat papua yang kental. aku masih ingat nadanya, terngiang disini, di telinga. "Ada berapa agama di Indonesia?" pak taruli bertanya. "saya tahu pak" "Ada enam, ditambah konghucu satu jadi enam pak" seperti biasa, pak Tendy yang menjawab, ia pun menjabarkannya. Ia memang sedikit lagi menuju masa "pulih" dan kami merasa ia dekat dengan "pulang". kemudian terkadang pasien dari papua itu menunjuk tangan kemudian merespon apapun yang dikatakan pa taruli dengan baik. kadang ia terlalu banyak bicara. Kalau sudah begitu, kami tim rehab yang mengawasinya dari depan akan berseru "woooh, iyaaa iyaaa, sudah sudaaah , sudah cukuuup" lagi-lagi dengan nada yang kasar.

15.00 Setengah jam dari jam ini kami memberikan terapi musik. mereka dibiarkan bernyanyi, memilih lagu yang sudah ada di depan meja. sekitar delapan orang pasien bernyanyi, ada dua orang yang perlu disuruh untuk bernyanyi. Pak tendy membawakan lagu gereja tua, sama seperti pasien papua, Deda, pasien perempuan yang sudah sangat terlihat pulih juga membawakan lagu, walaupun setelah disuruh oleh bu lidya, lagu yang dinyanyikan adalah d'masiv. "tak ada manusia yang terlahir sempurna, kita pasti pernah dapat cobaan yang berat, seakan hidup ini tak ada artinya lagi. Syukuri apa adanya, hidup adalah anugerah. tetap jalani hidup ini ..." hatiku menangis, tapi kali ini aku dapat menahan. Ya Allah, aku benar-benar mencintai profesiku nanti, aku senang berada disini. Aku senang nantinya aku bisa membantu mereka pulih. Aku menghargai semua ciptaanMu ya Allah. aku mencintaiMu. Setelah itu, kurang lebih tiga kali lagu kemesraan diputar. dinyanyikan oleh tiga pasien, aku tidak tahu, mungkin mereka disorientasi waktu, mereka sampai tidak tahu bahwa lagu itu sudah lamaaa sekali, mereka mungkin tidak tahu lagu tulus, ariana grande, atau raissa. "Kemesraan iniii .. janganlah cepat berlaluuuu... kemesraan iniiii .... inginku kenang selaluu.. hatiku damaaaaiii ... jiwaku tentram di sampingmu.. hatiku damaaaai, jiwaku tentram di sampingmuuu"

Rabu, 03 Juni 2015

Dita

Hari pertama, Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit.

Aku bunga, bersama keempat orang temanku kami memilih rumah sakit ini untuk 40 hari menimba ilmu dan mengaplikasikan teori yang kita dapat setelah 6 semester menjajaki perkuliahan psikologi di kampus kami. Universitas Negeri Jakarta.

Rumah Sakit ini terletak di depan BKT (Banjir Kanal Timur), duren sawit, aku pernah ke daerah ini ketika melaksanakan ujian SNMPTN 2012,dulu. Rumah Sakit ini khusus untuk poli jiwa dan NAPZA, singkatnya, pasien yang berobat adalah pasien dengan gangguan jiwa, gangguan kepribadian, dan gangguan karena zat.

Untuk tiga minggu kedepan, kami diminta untuk berada di bagian rehabilitasi mental/psikososial di gedung belakang rumah sakit. Kemudian akan dilanjutkan tiga minggu berada di poli psikologi, dan satu minggu berada di rawat inap.

Pagi, 07.30 aku tergesa-gesa menekan tombol ke-empat pada lift rumah sakit. Kata ayu, kita janjian disana, untuk bertemu Pak Asep, mengambil nametag. Tapi hemat cerita, nametag ku belum jadi karena aku lupa mencetak foto 3x4 yang diminta Pak Asep. Ceroboh memang.

07.50,aku, hanun, dan ayu pergi ke lt 4 gedung rehab mental emosi dan perilaku di bagian belakang rumah sakit. Benar kata hanun, di ruang lobby, tempat pasien skizo rawat jalan yang mengantri ambil obat disana, menyeruak aroma yang aneh. Sekarang, disini, aku menghirupnya. Aromanya seperti bau obat, asam badan, keringat, bau apek. Aneh. Perjalanan dilanjutkan ke lantai empat, disana kita langsung disambut dengan ramah oleh jajaran tim rehab. Nama kepala bidangnya Pak .... . Pak Pandi, Nurpandi panjangnya. Beliau Psikolog, Psikolog lainya ada bu lidya, dan beserta pekerja sosial lainnya ada bu inne, bu ayu, ka nicky, ka ardi, pak taruli, dan pak .. maaf satu lagi aku lupa.

08.30 setelah bu ayu datang, sebagai petugas piket hari itu, ia memimpin jalannya briefing, diawali oleh penyetoran pasien-pasien dan follow up kabar pasien pj masing-masing. Pada akhir bagian briefing, bu lidya memperkenalkan kami, siapa kami, sampai berapa lama kami disini membantu mereka. Setelahnya, kami diperbolehkan bertanya apapun kepada seluruh jajaran tim. Kami juga diberikan jadwal yang sudah di print dengan rapi. Jadwal itu untuk tiga minggu kedepan kami disini. Lengkap.

09.00 Pasien day care berdatangan, tiba-tiba saja di depan mereka sudah berkumpul di aula. Dengan pendamping yang menunggunya di lobby lantai 4. Sebanyak kalau aku tidak salah ingat, sebanyak sembilan orang pasien day care. Mereka menggunakan pakaian yang bervariasi, bu Ika , pasien wanita sendiri hari ini, mengenakan baju tidur dan celana bahan. Diawali dengan senam, mereka mengikuti dengan baik. Pak Faisal, yang berdiri di belakang agak ke tengah, ia melakukan gerakan dengan arah terbalik dari gerakan mentor dan teman-temannya di depan. Ini terlihat lucu. Aku melihat bang Taruli, ka nicky dan lain-lain membantu pasien, berdiri stand by disekeliling mereka. Membenarkan gerakan mereka yang salah. dan memberitahu dengan suara keras jika mereka salah.

10.00 Kami diajak berkeliling, mulai dari ruang menjahit, yang sudah dipindahfungsikan menjadi ruang alternatif yang fleksibel, mulanya digunakan untuk menjahit, ruangan itu dipenuhi 6 mesin jahit, 1 mesin jahit listrik diantaranya, tapi mereka rusak. Semua. Jadilah ruangan ini dialihfungsikan jika dalam proses assesmen di awal program day care sangat penuh di ruangan seharusnya, maka ruangan ini dipakai. Kemudian kami dikenalkan dengan ruang komputer sekaligus ruang konsultasi psikologi. Disana hanya ada dua paket komputer, dan satu meja besar beserta dua kursi. Dibelakangnya terdapat rak-rak. Ka Ardi yang mendampingi kami mengatakan, fungsi ruangan ini memang untuk latker (latihan kerja) bagi pasien dengan minat komputer, sekaligus ruagan untuk konsultasi psikologi. Selanjutnya kami diberitahu ruang pertukangan, ruang menganyam, dan tentuny aula.
 
10.15-11.30 Pasien day care sudah dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan minat dan bakat yang dimiliki, ada yang di aula untuk meronce bunga, ada yang dibagian pertukangan, dan ada pula di bagian ruang komputer."Faisal, ampasnya begini ya, lihat, begini, jangan hanya diseperti ini seperti ini saja, nanti ga halus". "Iya pak" jawab pak faisal, seorang skizo yang sedang mengamplas sebilah papan agar halus. Selanjutnya saya melihat ia hendak menempelkan papan yang sudah didesign berupa nama Allah, ke atas papan yang tadi ia haluskan. Lem yang diberikan sangat banyak. Banyak sekali. Ka Nicky berkali-kali bilang "lemnya kebanyakan itu. dikurangi. jangan banyak-banyak ya".

13.00 Setelah makan dan sholat kami kembali ke ruangan. Di dalam hanya ada bu ayu, kami berbincang sebentar kemudian bu ayu menawarkan untuk menjemput pasien rawat inap yang akan di rehab di sesie dua. aku dan hanun yang berangkat, meninggalkan ayu yang sedang sibuk telpon keluarganya. aku , hanun, ka Nicky, dan Bu Inne berangkat, aku dan Ka nicky ke ruangan laki-laki. Ruang belimbing namanya. Kami naik lift, lantai 4 kalau saya tidak lupa. Berbarengan dengan suara terbukanya pintu lift, bersamaan dengan aroma aneh menyeruak. Kami masuk ke dalam satu gerbang, gerbangnya dikunci otomatis. dari dalam. Kami masuk lalu mencatat nama-mana pasien yang siap direhab, sesuai pertimbangan psikiater disana. Kami mencatat namanya, lalu memanggilnya. membariskannya di depan pintu gerbang. "bu saya mau ambil sendal dulu" salah satu pasien skizo menatap aku dan bertanya seperti itu. Aku hanya menjawab "iya". Ruangan itu pengap, mungkin tidak. maksud saya, mungkin hmmm terlalu banyak pintu, ruangan disebelah sana ruangan di sebelah sini, ada seperti tiang-tiang penjara di ujung sana, tapi tidak ada yang didalam. Aku merasa jantung ku berdebar. Tapi ini kabar baik karena tadinya aku membayangkan akan lebih berdebar lebih dari ini. banyak pasien. mungkin puluhan. mereka mengelilingiku. mereka bisa berjalan di depanku, dibelakang disamping, mereka bau. tetapi aku mulai menerima. atau mungkin mereka tidak bau. hanya suasananya saja. tidak tahu.

14.00 Senam dimulai, setelahnya, pak Nurpandi yang memimpin, materi DGT (Direct Group Therapy) hari ini adalah tentang persiapan pulang. Sebelumnya, ada empat orang pasien baru yang dirujuk untuk ikut rehab mental dari psikiater mereka. Mereka maju berempat, memperkenalkan diri, usia, pendidikan terahir, dan hobi, di depan teman-teman yang lain. Jumlah peserta therapy rawat inap banyak sekali, mungkin 20an. Aku meminta ijin untuk membaca history, multiaksial yang dimiliki empat orang pasien baru, salah satunya Rinaldi, kelakuan yang dikeluhkan adalah sikap kekanak-kanakan. Aksis 1 f20.3. Skizofrenia. Dita adalah salah satu pasien baru, hanun yang pertama kali memperhatikan bercak basah di celananya. Ia mens. Kemudian hanun langsung memberitahu petugas pekerja sosial kami, bu inne dan pak hmm aku lupa namanya. "Dita sedang mens?" lalu Dita dengan lantang "iya bu, dari 3 hari yang lalu padahal tau nih masih banyak aja" tangannya reflek meraba celananya yang basah, matanya sambil mencari-cari lehernya menunduk melihat-lihat selangkangannya yang basah.

14.45 Dita meletakkan tangannya ke dalam celana, menyentuhnya, memberikan garukan atau semacamnya, pak taruli dan bapak-bapak petugas langsung menyentaknya. "Heeeehhyy heeeyy Ditaaa Ditaaa, ngapain kamuu?" bersamaan dengan berahirnya pertanyaan pak taruli yang lantang, tangan Dita ikut keluar dari celana. "Enggak pak enggak" jawabnya.

15.40 therapy rawat inap selesai, mereka sudah dipulangkan ke ruangan-ruangan di bawah gedung dan gedung sebelah. Kami penasaran bagaimana kondisi ruangan di bawah gedung rehabilitasi mental, kata ka Dika, ruangan itu tempat pertama kali pasien skizo ditemukan, setelah 3/4 hari setelah diberikan treatment dan terapi biologis, berupa obat-obatan, barulah mereka dinaikan ke level yang lebih tinggi, di rawat inap subkardinal kalau aku tidak salah ingat. Ruangan pertama, paling bawah adanya di lt 1, petugas hanya disediakan ruangan berukuran 3 kali 4 dilengkapi ac dan tv dan monitor yang menampilkan cctv, di kiri dan kanan ruangan ada kaca besar, bisa langsung melihat pasien, Dibalik ruangan itu tinggalah pasien skizo akut, masih blm sama sekali kooperatif, agresifitas tinggi, dan sebagainya. perempuan dan laki-laki dicampur, jumlah kapasitas idealnya hanya enam orang. tapi overload hari ini, total ada 7 orang. "halooo, haloooo, do you see? understand? yes? yes? haloo sini siniii" Kata salah satu dari mereka, melihat ke arah kaca dan men"dadahi"  kami. "aku abis koma, disuntik disini" ia terus mengoceh. Kami naik ke lt 2, sama seperti lt 1, petugas dan perawat medis berada di ruangan dengan kaca besar-besar yang menembus langsung ke ruangan pasien skizo. cctv disana berfungsi untuk mengawasi kamar-kamar yang berada di balik kaca, ada beberapa kamar, untuk mereka ganti baju, atau untuk pasien akut, itu ruang isolasi. lt 2 hanya terdapat pasien wanita, satu orang pasien berjalan hanya mengenakan beha dan celana dalam, kemudian perawat yang tadinya berbincand dengan kami langsung mengambil tindakan dengan lantang. ia masuk ke dalam ruangan kaca "ibuuu, ibuu pakai bajunya ibuuuuu" teriaknya. Setelah itu , kami ke lt 3, terdapat pasien laki-laki. emosi dan perilakunya sudah amat stabil. mereka terlihat biasa saja. ada yang tiduran di lantai, di kasur, berkeliling kaca. dan ada yang duduk sambil memelototi kami.


16.05 Kami pulang. tidak sabar untuk menanti besok. karena latihan kerja setiap hari kamis adalah karaoke. aku penasaran bagaimana menikmati nyanyian para pasien.

*nama pasien sudah disamarkan demi menjaga kode etik kemahasiswaan psikologi

Senin, 06 April 2015

Please

Hai Aisyah,
Namamu bagus, seperti salah satu istri Rasulullah.
Aku pikir  nama itu cocok untukmu.
Pasti kau perempuan yang baik. 
Aku Bunga. Kau tidak mengenalku.
Tapi aku mengenalmu.

Kau tau dia kan?
Laki-laki itu sekarang punya hubungan yang spesial  denganku.
Tapi, dalam perjalanan kami, kau masih ada di hatinya.
Kau masih begitu spesial. Kau masih hidup  di hatinya.
Kau masih miliknya.

Aku pikir kau lebih tau segalanya dibandingku.
Tapi ada beberapa hal yang tidak kau ketahui.
Begini, ada yang salah darinya.
Kau pikir, setelah kau meninggalkannya, tak ada lubang yang berbekas di hatinya?
Kau pikir, dia baik-baik saja?
Kau pikir setelah tiga tahun berpisah denganmu, kau tak ada lagi hatinya?

Aisyah, dia mencintaimu berkali-kali, membencimu berkali-kali. 
Seperti kau hidupnya yang pergi. Dia bingung. Dia berubah.
Aku ceritakan sedikit, aku bunga, aku mahasiswi psikologi. aku belajar manusia.
Aku belajar psikoanalis, conscious mind, unconscious mind. Tadinya aku tak percaya aliran itu.
Menurutku terlalu abstrak, tapi laki-laki itu menjadikan ini konkret.
Yang harus kau tahu, laki-lakimu masih jadi milikmu.

Cantik, rasanya aneh. Menyaksikan laki-lakimu masih menyimpanmu
Rasanya aneh, menjadi bukti hidup dan saksi hidup bahwa kau masih dihatinya.
Aku mau pergi saja, tapi laki-lakimu bilang aku tak boleh pergi. 
Aku harus apa?
Kepalaku pusing tadi siang.
Rasanya mau jadi pengidap skizofren saja.

Aku yakin, kalau kau ceraikan suamimu.
Pasti dia masih mau menerimamu.
Dengan segala kekuranganmu.

Aku mau pergi saja. 
Laki-lakimu masih jadi laki-lakimu. 
Mungkin ketika tangannya memegang tanganku.
Itu hanya proyeksi
Seperti ....
Seseorang yang ingin minum jus jeruk.
Tapi jus jeruk itu sudah dipesan lebih dulu oleh orang lain.
Kemudian, pelayan menggantinya dengan jus jeruk lain untuk orang itu.
Orang itu menerimanya, tapi dengan membayangkan jus jeruk kedua adalah
jus jeruk pertama

Aisyah, aku mohon, aku bingung sekarang. 
Aku ragu pada banyak hal.
Please, suruh laki-laki itu mengikhlaskanmu
atau, kau pergi saja dari hatinya
Please. Aku mohon. Aku mohon.

Kamis, 22 Januari 2015

19 Januari 2015

Aku selalu takjub pada sikapmu. Jika ku bilang aku marah, bahkan sebelum aku katakan itu, kau sudah bisa memaknai rasa kesalku, kemudian kau selalu mencari cara yg bijaksana untuk redamkan itu. Kau terlalu cepat mengobservasi segala tingkah lakuku, sebagai mahasiswi psikologi aku takjub. sekali lagi aku takjub. Kadang interpretasimu terlalu dini, tapi bahkan itu yang menjadikanku cemburu pada caramu memprosesnya. Bagaimana bisa dengan cepatnya kau amati aku, kemudian akan terus ingat jika aku lakukan A maka akan menghasilkan X?

Kau melindungiku dengan cukup. Tidak lebih tidak kurang. Perlindunganmu bijaksana. Kau selalu tau "kebutuhan ideal" komunikasi hubungan kita. Sekali lagi, sebagai mahasiswi psikologi yg nilai mata kuliah psikologi komunikasinya A, aku cemburu padamu. Kau tidak belajar mata kuliah ini sepertiku, tapi kau memahaminya lebih baik dibandingku. Jika dalam sehari pada pagi sampai sore hari kau pikir komunikasi kita kurang, maka kau lebihkan di malamnya, jika kau merasa tidak cukup waktu untuk komunikasi di malam hari, kau lebihkan itu pada paginya. Aku selalu merasa cukup. Tidak lebih tidak kurang.

Kau manis sekali. Aku suka leluconmu yg hmm begini, kau tanyakan hal-hal yg bertolak belakang dengan tingkah lakumu padaku. Contohnya kau bilang "kenapa sih ko kamu sayang sama aku? aku aja biasa aja sama kamu" sedang jari-jari tanganmu meremas punggung tanganku dengan keras. Aku suka ketika kau memberikan lelucon menyinggung tingkat kecemburuanku. Pernah pada satu saat di bis, kau katakan sesuatu yang tak aku suka tentang wanita-wanita itu, tapi tanganmu terus menggenggamku dengan kuat. Aku belajar komunikasi nonverbal pada manusia. Dan aku memahami pesan tersirat yg kau sampaikan dari genggaman tanganmu itu. Aku juga sayang padamu.

Hari itu, 19 Januari 2015. Kau katakan kau mau menikahiku. Ditengah obrolan yg sama sekali tidak sedang menyinggung ke arah sana, Di tengah ingatanku bahwa kau akan merasa tidak suka jika membahas soal itu. Kau bilang kau mau menikahiku. Hidup denganku. Kau katakan usia kapan kita menikah, kapan kita memiliki empat orang anak. Kau katakan kau sayang padaku. Kau ambil tanganku, kau peluk tanganku. Kau letakkan dipipimu, ditelingamu, dipelipismu.